![]() |
| ASEAN |
LESEHAN KAMPUS BACARITA "MEA" BERSAMA LPM-LINTAS IAIN AMBON.
===================================
Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus. Hal terpenting adalah Anda perlu ketahui dan antisipasi dalam menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Berikut pemaparan singkat dari hasil kajian kami LPM-Lintas IAIN Ambon tentang MEA.
SEBELUMNYA APA SIH MEA ITU?
MEA adalah kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi Asean. Ini merupakan suatu kesepakatan sebagai bentuk penguatan di berbagai sektor, terutama demi pertahanan guncangan global. Implementasi dari kebijakan ini mirip seperti FTA yakni Free Trade Area, tetapi masih dalam ASEAN. Last time, kebijakan ini rencananya masih jauh-jauh hari, namun karena semakin dibutuhkannya kerja sama bilateral dalam penguatan negara-negara ASEAN dari serangan produk luar negeri maka diajukanlah MEA hingga tahun 2015. Hal ini juga didukung oleh AFTA yang dilaksanakan pada tahun 2020. Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah pasar terbesar karena jumlah konsumsi yang besar. Tetapi dengan melihat data tingkat persaingan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih terlihat di kelas bawah. Artinya kita bisa saja diserang oleh produk-produk luar. Tidak hanya produk luar, tetapi juga oleh serbuan Tenaga Kerja (Skilled Labour) yang bisa menggeser mata pencaharian kita. Kita sebagai warga negara terutama yang masih bersekolah hingga pejabat tingkat birokrat, tentu sebagai penentu apakah kita akan menjadi winner atau loser.
Bagaimana itu mempengaruhi Anda?
Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. "Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.".
APAKAH KOTA AMBON (MALUKU) SIAP MENGHADAPI MEA ?
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015 bisa jadi merupakan momok yang menakutkan bagi beberapa kalangan. Misalnya ada kekhawatiran bahwa lahan nafkah hidupnya akan diambil pendatang yang berasal dari luar Indonesia.
Melirik dari perkataan wali kota ambon Richad Louhenpessy yang di muat di Antara News.Com Bahwa " masalah serius yang dihadapi Pemkot Ambon mau tidak mau , serta suka dan tidak suka kebijakan masyrakat Ekonomi Asean , tidak ada pilihan lain bagi kita untuk mempersiapkan masyrakat terutama para tenaga kerja Baik pegawai negri maupun tidak". dia juga
menambahkan para tenaga kerja harus bisa bradptasi dengan kebutuhan tersebut dengan menyiapkan dan mengubah perilaku budaya kerja.
dari ungkapan Wawali tesebut bisa kita menarik satu benag merah bahwa kota Ambon siap menghadapi Masyrakat Ekonomi Asean.namun diliat dari kondisi dilapangan dalam hal ini Sejumlah titik-titik perkonomian Kota Ambon masi sangat jauh dari standar mutu atau tidak memenuhi kepuasan Konsumen.
===================================
Ini akan mempengaruhi banyak orang, terutama pekerja yang berkecimpung pada sektor keahlian khusus. Hal terpenting adalah Anda perlu ketahui dan antisipasi dalam menghadapi pasar bebas Asia Tenggara yang dikenal dengan sebutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Berikut pemaparan singkat dari hasil kajian kami LPM-Lintas IAIN Ambon tentang MEA.
SEBELUMNYA APA SIH MEA ITU?
MEA adalah kepanjangan dari Masyarakat Ekonomi Asean. Ini merupakan suatu kesepakatan sebagai bentuk penguatan di berbagai sektor, terutama demi pertahanan guncangan global. Implementasi dari kebijakan ini mirip seperti FTA yakni Free Trade Area, tetapi masih dalam ASEAN. Last time, kebijakan ini rencananya masih jauh-jauh hari, namun karena semakin dibutuhkannya kerja sama bilateral dalam penguatan negara-negara ASEAN dari serangan produk luar negeri maka diajukanlah MEA hingga tahun 2015. Hal ini juga didukung oleh AFTA yang dilaksanakan pada tahun 2020. Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah pasar terbesar karena jumlah konsumsi yang besar. Tetapi dengan melihat data tingkat persaingan Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih terlihat di kelas bawah. Artinya kita bisa saja diserang oleh produk-produk luar. Tidak hanya produk luar, tetapi juga oleh serbuan Tenaga Kerja (Skilled Labour) yang bisa menggeser mata pencaharian kita. Kita sebagai warga negara terutama yang masih bersekolah hingga pejabat tingkat birokrat, tentu sebagai penentu apakah kita akan menjadi winner atau loser.
Bagaimana itu mempengaruhi Anda?
Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja asing. "Sehingga pada intinya, MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asingnya.".
APAKAH KOTA AMBON (MALUKU) SIAP MENGHADAPI MEA ?
Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015 bisa jadi merupakan momok yang menakutkan bagi beberapa kalangan. Misalnya ada kekhawatiran bahwa lahan nafkah hidupnya akan diambil pendatang yang berasal dari luar Indonesia.
Melirik dari perkataan wali kota ambon Richad Louhenpessy yang di muat di Antara News.Com Bahwa " masalah serius yang dihadapi Pemkot Ambon mau tidak mau , serta suka dan tidak suka kebijakan masyrakat Ekonomi Asean , tidak ada pilihan lain bagi kita untuk mempersiapkan masyrakat terutama para tenaga kerja Baik pegawai negri maupun tidak". dia juga
menambahkan para tenaga kerja harus bisa bradptasi dengan kebutuhan tersebut dengan menyiapkan dan mengubah perilaku budaya kerja.
dari ungkapan Wawali tesebut bisa kita menarik satu benag merah bahwa kota Ambon siap menghadapi Masyrakat Ekonomi Asean.namun diliat dari kondisi dilapangan dalam hal ini Sejumlah titik-titik perkonomian Kota Ambon masi sangat jauh dari standar mutu atau tidak memenuhi kepuasan Konsumen.
tentunya ini merupakan masalah yang di hadapi Pemerintah, sebab bisa jadi Investor asing mampu memberikan tawaran menarik dalam hal ini kenyamanan kepada konsumen, dengan ini dengan sendirinya pengusaha lokal akan tersingkirkan.Mestinya berbagi persiapan dan upaya untuk mengarungi lautan bebas pasar asia harus gencar-gencarnya dari saat ini. mulai dari pelatihan, workshop dll. hal ini bukan saja dilakukan ditingkat provinsi juga semestinya dilakukan sampai tingkat kabupaten bahkan desa.
====Bersambung========
n. Fahrul Kaisuku

0 komentar:
Posting Komentar
Tinggalkan jejak kata mu Sobat Lintas,
salam ...